Tak Semua Bisa Belajar Online, Guru di Kabupaten Bogor Punya Metode Sendiri

Kompas.com - 15/07/2020, 15:54 WIB
Seorang guru honorer, Joko mendatangi rumah anak didiknya di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mengirimkan tugas sekolah secara daring, Selasa (14/7/2020). KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSANSeorang guru honorer, Joko mendatangi rumah anak didiknya di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mengirimkan tugas sekolah secara daring, Selasa (14/7/2020).

KABUPATEN BOGOR, KOMPAS.com - Segala kesan dan pengalaman yang dirasakan dalam tiga bulan terakhir sejak Maret 2020 tidak pernah terbayangkan oleh Joko, guru di SDN 3 Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Meskipun sebagai guru honorer, Joko memastikan kegiatan belajar mengajar tidak berhenti di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

Joko terkadang lupa beristirahat demi memastikan muridnya bisa belajar jarak jauh dengan baik sesuai perintah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca juga: Cerita Atlet Difabel, Mengubah Keterbatasan Jadi Tanpa Batas

Menghadapi tantangan

Sekolah dengan sistem online bukan tanpa masalah.

Tidak semua dari 300 siswa yang ada di sekolah dasar tersebut dapat benar-benar nyaman belajar melalui sistem daring.

Minimnya infrastruktur teknologi informasi atau jaringan internet menjadi kendala utama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

Tidak semua orangtua mampu membelikan gawai bagi anaknya sebagai sarana pembelajaran daring.

Selain tidak terjangkau akses internet, masyarakat di pedesaan juga hidup di bawah garis kemiskinan. Terlebih lagi saat pandemi, ekonomi masyarakat ikut terdampak.

Baca juga: SMP di Salatiga Buat Aplikasi Khusus untuk Pantau Siswanya Selama Belajar Online

Belum lagi kondisi geografis menyulitkan yang memaksa para guru melintasi perbukitan untuk mengembangkan model pengajaran yang baru untuk lebih kreatif.

Joko dan para guru lainnya akhirnya menciptakan metode pembelajaran baru.

Sistem estafet

Adapun metode tersebut melibatkan enam guru.

Mereka mengunjungi rumah para murid secara door to door, kemudian meluangkan waktu memberi penugasan secara estafet kepada setiap siswa.

Lewat cara itulah para guru ingin tetap menjaga kesehatan anak-anak, karena ancaman wabah Covid-19 masih terus mengintai.

"Modelnya dititip-titip ke temannya dari satu rumah ke rumah lain, estafet gitu. Dititip tugas itu buat temannya yang kenal, karena kan ada ratusan anak, bahaya juga kalau kita datangin semua," ucap Joko kepada Kompas.com, kemarin.

Baca juga: Belajar Online, Guru dan Siswa di Kota Bengkulu Dapat Kuota Internet Gratis

Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X